Sesungguhnya
agama islam memerintahkan setiap muslim untuk mencintai saudaranya bagaikan
mencintai dirinya sendiri, menghindarkan
saudaranya dari bahaya seperti
menghindarkan dirinya sendiri, serta saling menasehati di antara mereka bahkan
menganggap mereka bagian dari hidup kita. Itulah keindahan yang terpancar dari
jiwa-jiwa suci yang saling mengharap ridho Ilahi.

Agama
islam datang memberi sambutan hangat perdamaian sekaligus membawa sejuta
keistimewaan yang mengagumkan. Saat islam datang, kaum jahiliyah membenci
keberadaan kaum perempuan, tega mengubur mereka hidup-hidup, serta tidak
memberikan harta warisan kepada mereka. Bahkan, terkadang mempusakai wanita
bagaikan harta lain dengan jalan paksa. Maka dari itu, islam tampil untuk
menjaga dan mengangkat derajat wanita layaknya berlian berharga, menunaikan
hak-hak merkaa, serta melarang perbuatan-perbuatan keji terhadap mereka.
Demi
kesucian masyarakat serta keutuhan dan kehormatan seorang muslimah, islam
menganjurkan pernikahan dan mengharamkan perzinaan. Islam memerintahkan kepada
kaum hawa agar mengenakan pakaian yang sesuai dengan kacamata syari’at. Yaitu busana
syar’i yang menunjukkan identitas diri sebagai muslimah sejati.
Wahai penyejuk hati
kaum adam….
Tidakkah
kita ingat degan firman-Nya?
Yaitu:
وَقُلْ
لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا
يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ
عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ
آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ
بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي
أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ
التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ
لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ
لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا
أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka
menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka
menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya
kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau
putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara
laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera
saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang
mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan
(terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan
janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka
sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang
beriman supaya kamu beruntung”.
Coba bayangkan, dewasa ini banyak kaum hawa
yang meremehkan kriteria busana yang layak menurut standar syari’at. Mayoritas wanita
bimbang untuk melangkahkan diri sebagai muslimah sejati. Kehidupan mereka
berporos pada meninggikan nilai adat tanpa memperhitungkan aturan syari’at. Apabila
kaum hawa telah meremehkan hal tersebut, generasi seperti apakah yang akan
lahir melanjutkan estafet dakwah kita?
Akhwaty fillah….
Mari
memperbaiki kualitas diri, membina hati dan nurani menjadi muslimah hakiki!
Wallahu a’lam
bish shawab.
_Sragen,2016.majalah an-najma:edisi 99,vol.5.halaman:24.
“dengan sedikit perubaha”
Komentar
Posting Komentar